Senin, 14 November 2016

DALIL QURAN DAN HADITS TENTANG GHIBAH

Bismillahirrahmaanirrahiim,,,

Assholatu wasalamun ala Rosullillah..



Dalil-dalil dari Quran dan hadits tentang ghibah adalah sebagai berikut:
~*~DALIL HARAMNYA GHIBAH~*~
- QS Al Hujurat: 12
ولا يغتب بعضكم بعضا أيحب أحدكم أن يأكل لحم أخيه ميتا فكرهتموه واتقوا الله إن الله تواب رحيم
Artinya: Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Apakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allaah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Ibnu Abbas dalam menafsiri ayat di atas menyatakan: (إنما ضرب الله هذا المثل للغيبه لأن أكل لحم الميت حرام مستقذر و كذا الغيبه حرام فى الدين و قبيح فى النفوس) Allaah membuat perumpamaan ini untuk ghibah karena memakan daging bangkai itu haram dan menjijikkan. Begitu juga ghibah itu haram dalam agama dan buruk dalam jiwa. (Lihat Tafsir Al-Qurtubi hlm 16/346). - Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud
لما عرج بى مررت بقوم لهم اظفار من نسائهن يخمشون وجوههم و صدورهم فقلت: من هؤلاء يا جبريل? قال: هؤلاء الذين يأكلون لحوم الناس و يقعون فى أعراضهم.
Artinya: Ketika aku dinaikkan ke langit, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga, mereka melukai (mencakari) wajah-wajah mereka dan dada-dada mereka. Maka aku bertanya: "Siapakah mereka ya Jibril?" Jibril berkata: "Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan mereka mencela kehormatan-kehormatan manusia". - Hadits riwayat Ahmad dari Jabir bin Abdullah
كنا مع النبى -صلى الله عليه وسلم- فارتفعت ريح جيفة منتنة فقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم- أتدرون ما هذه الريح هذه ريح الذين يغتابون المؤمنين
Artinya: Kami pernah bersama Nabi tiba-tiba tercium bau busuk yang tidak mengenakan. Kemudian Rosulullohbersabda, 'Tahukah kamu, bau apakah ini? Ini adalah bau orang-orang yang mengghibah (menggosip) kaum mu'minin.
gosip haram
~*~Dalil bolehnya GHIBAH~*~
- QS An Nisa 4: 148
لا يحب الله الجهر بالسوء من القول إلا من ظلم وكان الله سميعا عليما
Artinya: Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. - Hadits riwayat Muslim
حق المسلم على المسلم ست قيل ما هن يا رسول الله قال إذا لقيته فسلم عليه وإذا دعاك فأجبه وإذا استنصحك فانصح له وإذا عطس فحمد الله فسمته وإذا مرض فعده وإذا مات فاتبعه.
- Hadits riwayat Ibnu Hibban dan Baihaqi
اذكروا الفاسق بما فيه, يحذره الناس
Artinya: Ceritakan tentang pendosa apa adanya supaya orang lain menjadi takut. - Hadits riwayat Muslim
كل أمتي معافى إلا المجاهرون
Artinya: Setiap umatku akan dimaafkan kecuali para mujahir.
mujahir adalah orang-orang yang menampakkan perilaku dosanya untuk diketahui umum - Hadits riwayat Baihaqi
من ألقى جلباب الحياء فلا غيبة له
Artinya: Barangsiapa yang tidak punya rasa malu (untuk berbuat dosa), maka tidak ada ghibah (yang dilarang) baginya.
~*~HUKUM GOSIP (GHIBAH) ADA TIGA: HARAM, WAJIB, BISA~*~
Dari sejumlah dalil Quran dan hadits di atas, maka ulama mengambil kesimpulan bahwa hukum ghibah atau gosip itu terbagi tiga yaitu haram, wajib dan halal (dapat).
~HARAM
Hukum asal gosip adalah haram. Gosip yang haram adalah ketika Anda membicarakan aib sesama muslim yang dirahasiakan. Baik aib itu terkait dengan bentuk fisik atau perilaku; terkait dengan agama atau duniawi. Hukum haram ini tersurat secara tegas dalam Al-Quran, hadits seperti disebut di atas dan ijmak ulama sebagaimana disebutkan oleh Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Qurtubi 16/436. Yang menjadi perselisihan ulama hanyalah apakah gosip termasuk dosa besar atau kecil. Mayoritas ulama menganggapnya sebagai dosa besar. Menurut Ibnu Hajar Al-Haitami ghibah dan namimah (adu domba) termasuk dosa besar. Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar mengatakan: Ghibah itu haram tidak hanya bagi pembawa gosip tapi juga bagi pendengar yang mendengar dan mengakui. Maka wajib bagi siapa saja yang mendengarkan orang memulai berghibah untuk berusaha menghentikannya ketika ia tidak kuatir pada potensi ancaman. Bila takut maka ia wajib mengingkari dengan hatinya dan keluar dari majelis pertemuan kalau memungkinkan. Bila mampu mengingkari dengan lisan atau dengan mengalihkan pembicaraan maka hal itu wajib dilakukan. Apabila tidak dilakukan, maka ia berdosa.
~WAJIB
Ghibah atau membicarakan / menyebut aib orang lain adakalanya wajib. Hal itu terjadi dalam situasi di mana ia dapat menyelamatkan seseorang dari bencana atau potensi terjadinya sesuatu yang kurang baik. Misalnya, ada seorang pria atau wanita yang ingin menikah. Dia meminta nasihat tentang calon pasangannya. Maka, si pemberi nasihat wajib memberi tahu keburukan atau aib calon pasangannya sesuai dengan fakta yang diketahui pemberi nasihat. Atau seperti si A mengatakan pada si B bahwa si C berencana untuk mencuri hartanya atau membunuhnya atau mencelakakan istrinya, dlsb. Ini termasuk dalam kategori memberi nasihat. Dan hukumnya wajib seperti disebut dalam hadits di atas tentang 6 hak muslim atas muslim yang lain.
~BISA
Imam Nawawi dalam Riyadus Shalihin 2/182 membagi gosip atau ghibah yang dibolehkan menjadi enam sebagai berikut:
الأول: التظلم, فيجوز للمظلوم أن يتظلم إلى السلطان والقاضي وغيرهما مما له ولاية أو قدرة على إنصافه من ظالمه, فيقول: ظلمني فلان كذا.
الثاني: الاستعانة على تغيير المنكر ورد المعاصي إلى الصواب, فيقول لمن يرجو قدرته على إزالة المنكر: فلان يعمل كذا , فازجره عنه.
الثالث: الاستفتاء, فيقول: للمفتي: ظلمني أبي, أو أخي, أو زوجي, أو فلان بكذا.
الرابع: تحذير المسلمين من الشر ونصيحتهم.
الخامس: أن يكون مجاهرا بفسقه أو بدعته, كالمجاهر بشرب الخمر ومصادرة الناس وأخذ المكس وغيرها .
لسادس: التعريف, فإذا كان الإنسان معروفا بلقب الأعمش, والأعرج والأصم, والأعمى والأحول, وغيرهم جاز تعريفهم بذلك.
Artinya:
Pertama, At-Tazhallum. Orang yang terzalimi bisa menyebutkan kejahatan seseorang terhadap dirinya. Tentunya hanya bersifat pengaduan kepada orang yang memiliki qudrah (kapasitas) untuk melenyapkan kezaliman. Kedua, isti'anah (meminta pertolongan) untuk merubah atau menghilangkan kemunkaran. Seperti mengatakan kepada orang yang diharapkan mampu menghilangkan kemungkaran: "Fulan telah berbuat begini (perbuatan buruk). Cegahlah dia." Ketiga, Al-Istifta 'atau meminta fatwa dan nasihat seperti kata peminta nasihat kepada mufti (pemberi fatwa): "Saya dizalimi oleh ayah atau saudara, atau suami. " Keempat, at-Tahdzir lil muslimin (memperingatkan orang-orang Islam) dari perbuatan buruk dan memberi saran pada mereka. Kelima, orang yang menampakkan kefasikan dan perilaku maksiatnya. Seperti menampakkan diri saat minum miras (narkoba), berpacaran di depan umum, dll. Keenam, memberi julukan tertentu pada seseorang. Ketika seseorang dikenal dengan julukan ا Kategori dan mungkin ghibah untuk enam kasus di atas disetujui oleh Imam Qurtubi dan dianggap pendapat yang ijmak. Dalam Tafsir Al-Qurtubi 16/339 iya menyatakan
وكذلك قولك للقاضي تستعين به على أخذ حقك ممن ظلمك فتقول فلان ظلمني أو غصبني أو خانني أو ضربني أو قذفني أو أساء إلي, ليس بغيبة. وعلماء الأمة على ذلك مجمعة
Artinya: Demikian juga ucapan Anda pada hakim meminta tolong untuk mengambil hak Anda yang diambil orang yang menzalimi lalu Anda mengatakan pada hakim: Saya dizalimi atau dikhianati atau dighasab olehnya maka hal itu bukan ghibah. Ulama sepakat atas hal ini. As-Shan'ani dalam Subulus Salam 4/188 menyatakan
والأكثر يقولون بأنه يجوز أن يقال للفاسق: يا فاسق, ويا مفسد, وكذا في غيبته بشرط قصد النصيحة له أو لغيره لبيان حاله أو للزجر عن صنيعه لا لقصد الوقيعة فيه فلا بد من قصد صحيح
Artinya: Kebanyakan ulama berpendapat bahwa dapat memanggil orang fasik (pendosa) dengan sebutan Wahai Orang Fasiq !, Hai Orang Rusak! Begitu juga meggosipi mereka dengan syarat untuk berarti menasihatinya atau menasihati lainnya untuk menjelaskan perilaku si fasiq atau untuk mencegah agar tidak melakukannya. Bukan dengan tujuan terjatuh ke dalamnya. Maka (semua itu) harus timbul dari maksud yang baik.
Baarakallahu fiyk,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar